Senin, 05 November 2012

Teori Perkembangan Kognitif


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Teori Perkembangan Kognitif
Kognitif adalah salah satu ranah dalam taksonomi pendidikan. Secara umumkognitif diartikan potensi intelektual yang terdiri dari tahapan : pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehention), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesa (sinthesis), evaluasi (evaluation). Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan kemampuan rasional (akal).
Teori kognitif lebih menekankan bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang dimiliki oleh orang lain. Oleh sebab itu kognitif berbeda dengan teori behavioristik, yang lebih menekankan pada aspek kemampuan perilaku yang diwujudkan dengan cara kemampuan merespons terhadap stimulus yang datang kepada dirinya. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata kognitif. Dari aspek tenaga pendidik misalnya. Seorang guru diharuskan memiliki kompetensi bidang kognitif. Artinya seorang guru harus memiliki kemampuan intelektual, seperti penguasaan materi pelajaran, pengetahuan mengenai cara mengajar, pengetahuan cara menilai siswa dan sebagainya. Akan tetapi apa arti kognitif yang sebenarnya? Lalu apa perkembangan kognitif itu?
Jean Piaget (1896-1980), pakar psikologi dari Swiss, mengatakan bahwa anak dapat membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri. Dalam pandangan Piaget, terdapat dua proses yang mendasari perkembangan dunia individu, yaitu pengorganisasian dan penyesuaian (adaptasi). Kecenderungan organisasi dapat dilukiskan sebagai kecenderungan bawaan setiap organisme untuk mengintegasi proses-proses sendiri menjadi system - sistem yang koheren. Adaptasi dapat dilukiskan sebagai kecenderungan bawaan setiap organisme untuk memyesuaikan diri dengan lingkungan dan keadaan sosial. Piaget yakin bahwa kita menyesuaikan diri dalam dua cara yaitu asimiliasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi ketika individu menggabungkan informasi baru ke dalam pengetahuan mereka yang sudah ada. Sedangkan akomodasi adalah terjadi ketika individu menyesuaikan diri dengan informasi baru. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas muncul dan diperolehnya skemata- skema tentang bagaimana seserang mempersepsi lingkungannya- dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan kedalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme ( yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan), tori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Untuk pengembangan teori ini, Piaget memperoleh Erasmuspress. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui 4 periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia :
  • Tahapan Sensorimotor ( Usia 0-2Th).
  • Tahapan Pra-Operasional ( Usia 2-7Th).
  • Tahapan Operasional Konkrit ( Usia 7-11Th).
  • Tahapan Opersinal Formal ( Usia 11-Dewasa).

A.    Tahapan Sensorimotor

Menurut Piaget, Bayi lahir dengan sejumlah Refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengesplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan ini. Tahapan sensori motor adalah tahapan pertama dari enpat tahapan. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuanan pemahaman spasial penting dalam enam sub-tahapan :
1.      Sub- Tahapan Skema Refleks, muncul saat lahir sampai usia 6 minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
2.      Sub- Tahapan Fase reaksi Sirkular primer, dari usia 6 minggu sampai 4 bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan- kebiasaan.
3.      Sub- Tahapan Fase Reaksi Sirkular Sekunder, muncul antara usia 4-9 bulan dan berhubuungan terutama dengan koordinasi antara pengelihatan dan pemaknaan.
4.      Sub- Tahapan Koordinasi Reaksi Sirkular Sekunder, muncul dari usia 9-12 bulan saat, berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebgai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda ( permanensi Objek ).
5.      Sub- Tahapan Fase Reaksi Sirkular Tersier, muncul dari usia 12-18 bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
6.      Sub- Tahapan awal representasi simbolis, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreatifitas.

B.     Tahapan Praoperasional

Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget dapat menunjukkan bahwa setelah akhir usia 2 tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (pra)operasi dalam teori Piaget ialah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah : opersi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda. Menurut Piaget, Tahapan Pra-Operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia 2-6 tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan ketrampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif buakan logis. Dipermulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu mereka tidak dapat memahami tempatnya didunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang disekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif disaat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hiduppun memiliki perasaan.

C.    Tahapan Operasional Konkrit

Tahapan ini merupakan tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia 6-12 tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini antara lain :
Pengurutan – kemampuan untuk mengurutkan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
Klasifikasi - kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian ini. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme ) anggapan bahwa semua benda hidup dapat berperasaan).
Decentering - anak melai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh, anak tidak lagi menganggap cangkir lebar tetapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
Reversibility - anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
Konservasi - memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda ialah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampialn dari objek atau benda-benda ini. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas ini akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
Penghilangan sifat egosentrisme - kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang pandang orang lain (bahkan saat orang ini berpikiran dengan cara yang salah). Sebagi contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka dalam kotak, lalu meninggalkan ruanagan, kemudian Ujang memindahkan boneka ini kedalam laci, setelah ini bari Siti kembali keruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada dalam kotak walau anak ini tahu bahwa boneka ini telah dipindahkan ke dlam laci oleh
D.    Tahapan Operasi Formal

Tahap operasi formal adalah periode terakir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia 11 tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut samapai dewasa. Karakteristik tahap ini ialah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dfan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada “gradasi abu-abu” diantaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan samapi tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.
1.      Informasi Umum Mengenai Tahapan-tahapan
Keempat tahapan tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Walau tahapan-tahapan itu dapat dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu sama. Tidak ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur.
2.      Universal (tidak terkait budaya)
3.      Dapat digeneralisasikan: representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan.
4.      Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis.
5.      Urutan tahapan bersifat hierarkis( setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tetapi lebih terdiferensi dan terintegrasi).
6.      Tahapan memprresentasikan perbedaan secara kuantitatif dalam model berfikir, bukan hanya perbedaan kuantitatif.



2.      Proses Perkembangan
Seorang individu dalam hidupnya selalu berinteraksi dengan lingkungan. Dengan berinteraksi ini, seorang akan memperoleh Skema. Skema berupa kategori pengetahuan yang membantu dalam menginterpretasi dan memahami dunia. Skema juga menggambarkan tindakan baik secara mental maupun fisik yang terlibat dalam memahami atau mengetahui sesuatu. Sehingga dalam pandangan Piaget, skema mencakup baik kategori pengetahuan maupun proses perolehan pengetahuan ini. Seiring dengan pengalamannya mengekplorasi lingkungan, informasi yang baru diddapatnya digunakan untuk memodifikasi, menambah, atau mengganti skema yang sebelumnya ada. Sebagai contoh, seorang anak mungkin memiliki skema tentang sejenis binatang, misalnya dengan burung. Bila pengalaman awal anak berkaitan dengan burung kenari, anak kemungkinan beranggapan bahwa semua burung ialah kecil, berwarna kuning, dan mencicit. Suatu saat, mungkin anak melihat seekor burung unta. Anak akan perlu memodifikasi skema yang ia miliki sebelumnya tentang burung untuk memasukkan jenis burung yang baru ini.
Asimilasi adalah proses menambahkan informasi baru ke dalam skema yang telah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar dapat masuk ke dalam skema yang telah ada sebelumnya. Dalam contoh diatas, melihat burung kenari dan memberinya label “burung” merupakan contoh mengasimilasikan binatang itu pada skema burung si anak.
Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang telah ada. Dalam proses ini dapat pula terjadi permunculan skema yang baru sama sekali. Dalam contoh diatas, melihat burung unta dan mengubah skemanya tentang burung sebelum memberinya label “burung” merupakan contoh mengakomodasi binatang itu pada skema burung si anak.
Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga dapat meningkat adri satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ingin mencapai keadaan ekuilbrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisi dan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian tersebut.
Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena menerima pengetahuan dari luar secara pasif tetapi orang tersebut secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya.

2.2 Faktor Yang Berpengaruh Dalam Perkembangan Kognitif, Yaitu :
1.      Fisik
Interaksi antara individu dan dunia luat merupakan sumber pengetahuanbaru, tetapi kontak dengan dunia fisik itu tidak cukup untukmengembangkan pengetahuan kecuali jika intelegensi individu dapatmemanfaatkan pengalaman tersebut.
2.      Kematangan
Kematangan sistem syaraf menjadi penting karena memungkinkan anakmemperoleh manfaat secara maksimum dari pengalaman fisik. Kematanganmembuka kemungkinan untuk perkembangan sedangkan kalau 
Kurang hal itu akan membatasi secara luas prestasi secara kognitif. Perkembangan berlangsung dengan kecepatan yang berlainan tergantung pada sifat kontak dengan lingkungan dan kegiatan belajar sendiri
3.      Pengaruh social
Lingkungan sosial termasuk peran bahasa dan pendidikan, pengalaman fisikdapat memacu atau menghambat perkembangan struktur kognitif
4.      Proses pengaturan diri yang disebut ekuilibrasi
Proses pengaturan diri dan pengoreksi diri, mengatur interaksi spesifik dari individu dengan lingkungan maupun pengalaman fisik, pengalaman sosial danperkembangan jasmani yang menyebabkan perkembangan kognitif berjalansecara terpadu dan tersusun baik.
2.3 Implementasi Teori Perkembangan Kognitif Piaget Dalam Pembelajaran, adalah :
A.     Pembelajaran dilakukan dengan memusatkan perhatian kepada :
1.      Berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar pada hasilnya dan mengutamakan peran siswa dalam kegiatan pembelajaran serta memaklumi adanya perbedaan individu dalam kemajuan perkembangan yang dapat dipegaruhi oleh perkembangan intelektual anak.
2.      Teori dasar perkembangan kognitif dari Jean Piaget mewajibkan guru agar pembelajaran diisi dengan kegiatan interaksi inderawi antara siswa dengan benda-benda dan fenomema konkrit yang ada di lingkungan serta dimaksudkan untuk menumbuh-kembangkan kemampuan berpikir, antara lain kemampuan berpikir konservasi.
3.      Piaget memusatkan pada tahap-tahap perkembangan intelektual yang dilalui oleh semua individu tanpa memandang latar konteks sosial  dan budaya , yang mendalami bagaimana anak berpikir dan berproses yang berkaitan dengan perkembangan intelektual.
4.      Menurut Peaget, siswa dalam segala usia secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri.
5.      Pengetahuan tidak statis tetapi secara terus menerus tumbuh dan berubah pada saat siswa menghadapi pengalaman-pengalaman baru yang memaksa mereka membangun dan memodivikasi pengetahuan awal mereka.
6.      Piaget menjelaskan bahwa anak kecil memiliki rasa ingin tahu bawaan dan secara terus –menerus berusaha memahami dunia sekitarnya. Rasa ingin tahu ini menurut Piaget, memotivasi mereka untuk aktif membangun pemahaman mereka tentang lingkungan yang mereka hayati. PBI dikembangkan berdasarkan kepada teori Piaget ini.
7.      Kebanyakan ahli psikologi sepenuhnya menerima prinsip-prinsip umum Piaget bahwa pemikiran anak-anak pada dasarnya berbeda dengan pemikiran orang dewasa, dan jenis logika anak-anak itu berubah seiring dengan bertambahnya usia. Namun, ada juga peneliti yang meributkan detail-detail penemuan Piaget, terutama mengenai usia ketika anak mampu menyelesaikan tugas-tugas spesifik.
1.      Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak
2.      Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik.
3.      Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi denganlingkungan sebaik-baiknya.
4.      Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
5.      Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
6.      Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.
B.     Inti dari implementasi teori Piaget dalam pembelajaran antara lain sebagai berikut :
1.      Memfokuskan pada proses berfikir atau proses mental anak tidak sekedar pada produknya. Di samping kebenaran jawaban siswa, guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada jawaban tersebut.
2.      Pengenalan dan pengakuan atas peranan anak-anak yang penting sekali dalam inisiatif diri dan keterlibatan aktif dalam kegaiatan pembelajaran. Dalam kelas Piaget penyajian materi jadi (ready made) tidak diberi penekanan, dan anak-anak didorong untuk menemukan untuk dirinya sendiri melalui interaksi spontan dengan lingkungan.
3.      Tidak menekankan pada praktek - praktek yang diarahkan untuk menjadikan anak-anak seperti orang dewasa dalam pemikirannya.
4.      Penerimaan terhadap perbedaan individu dalam kemajuan perkembangan, teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh anak berkembang melalui urutan perkembangan yang sama namun mereka memperolehnya dengan kecepatan yang berbeda.
2.4  Kritik terhadap Teori Piaget
1. Pada sebuah studi klasik, McGarrigle dan Donalson (1974) menyatakan bahwa anak sudah mampu memahami konservasi (conservation) dalam usi yang lebih muda daripada usia yang diyakini oleh Piaget. 
2. Studi lain yang mengkritik teori Piaget yaitu bahwa anak-anak baru mencapai pemahaman tentang objek permanence pada usia di atas 6 bulan. Balillargeon dan De Vos (1991) ; 104 anak diamati sampai mereka berusia 18 tahun, dan diuji dengan berbagai tugas operasional formal berdasarkan tugas-tugas yang dipakai Piaget, termasuk pengujian hipotesa. Mayoritas anak-anak itu memang belum mencapai tahap operasional formal. Hal ini sesuai dengan studi-studi McGarrigle dan Donaldson serta Baillargeon dan DeVos, yang menyatakan bahwa Piaget terlalu meremehkan kemampuan anak-anak kecil dan terlalu menilai tinggi kemampuan anak-anak yang lebih tua.
3. Dan belum lama ini, Bradmetz (1999) menguji pernyataan Piaget bahwa mayoritas anak mencapai formal pada akhir masa kanak-kanak.


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Jean Piaget (1896-1980), pakar psikologi dari Swiss, mengatakan bahwa anak dapat membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri. Teori JeanPiaget tentang perkembangan kognitif memberikan batasan kembali tentangkecerdasan, pengetahuan dan hubungan anak didik dengan lingkungannya. Seorang guru diharuskan memiliki kompetensi bidang kognitif. Artinya seorang guru harus memiliki kemampuan intelektual, seperti penguasaan materi pelajaran, pengetahuan mengenai cara mengajar, pengetahuan cara menilai siswa dan sebagainya.
Jean Piaget dikenal dengan teori perkembangan intelektual yg menyeluruh, yg mencerminkan adanya kekuatan antara fungsi biologi & psikologis. Bayi lahir dengan refleks bawaan, skema dimodifikasi dan digabungkan untuk membentuk tingkah laku yang lebih kompleks. Pada masa kanak-kanak , anak belum mempunyai konsepsi tentang objek yang tetap. Ia hanya dapat mengetahui hal-hal yang ditangkap dengan indranya. Anak telah dapat mengetahui symbol-simbol matematis, tetapi belum dapat menghadapi hal-hal yang abstrak (tak berwujud).
Implementasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa, Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik, bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing, berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya dan di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.



3.2 Saran
1.      Guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
2.      Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi denganlingkungan sebaik-baiknya.
3.      Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
4.      Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
5.      Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.
DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. Sudarwan Danim.(2011).Perkembangan Peserta Didik. Bandung:CV ALFABETA. (hlm 49-52 )

Dra. Desmita, M.Si.(2011).Psikologi Perkembangan Peserta Didik.Bandung:PT REMAJA ROSDAKARYA. (hlm 96-114)

Yudrik Jahja.(2011).Psikologi Perkembangan.Jakarta:Kharisma Putra Kencana.
(hlm 115-123)

Dr.Yuliani Nurani Sujiono, M.Pd.(2009).Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini.Jakarta:PT.Indeks.(hlm 60-62)

Yusuf syamsu, Sugandi nani M.(2011). Perkembangan . Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. (hlm1-5)

Sunarto, Hartono B Agung.( 2008). Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta. hlm.(18-29)

WikipediaVALMBANDLatar Belakang Jean Piaget,arthachristianti.wordpress.comPembelajaran GuruBerbagai Bahan Terkait Model-Model Pembelajaran


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar