Senin, 05 November 2012

PENDEKATAN PENGAJARAN MEMBACA


PENDEKATAN PENGAJARAN MEMBACA

Pendekatan adalah seperangkat asumsi korelatif yang menangani hakikat bahasa, pengajaran bahasa, dan pembelajaran bahasa. Pendekatan pengajaran bahasa adalah separangkat asumsi bersifat aksiomatik mengenai hakikat bahasa, pengajaran bahasa dan belajar bahasa yang digunakan sebagai landasan dalam merancang, melaksanakan dan menilai proses belajar mengajar bahasa.
Macam-macam pendekatan pembelajaran:
·         Pendekatan Keterampilan Proses
·         Pendekatan Whole Language
·         Pendekatan Komunikatif
·         Pendekatan Intregratif
·         Pendekatan CBSA ( Cara Belajar Siswa Aktif)


1.      Pendekatan Keterampilan Proses
Pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran bahasa adalah pendekatan yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk terlibat secara aktif dan kreatif dalam proses pemerolehan bahasa. Pendekatan ini dipandang sebagai pendekatan dalam proses belajar-mengajar yang sesuai dalam era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendekatan ini memberikan pengetahuan, pengalaman, serta keterampilan yang cocok untuk memperoleh serta mengembangkan kompetensi bahasa yang kita pelajari, dalam hal ini bahasa Indonesia.
Fokus pembelajarannya tidak hanya pada pencapaian tujuan pembelajaran saja, melainkan juga pada pemberian pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut. Pengelolaan kelas dalam pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses dilaksanakan dengan pengaturan kelas, baik secara fisik maupun nonfisik. Pengaturan dilakukan sedemikian rupa agar siswa mempunyai keleluasaan gerak, merasa aman, bergembira, bersemangat, dan bergairah untuk belajar. Dengan kondisi yang demikian, materi yang diberikan kepada siswa akan mencapai hasil yang maksimal.

2.      Pendekatan Whole Language
Whole language adalah satu pendekatan pengajaran bahasa yang menyajikan pengajaran bahasa secara utuh, tidak terpisah-pisah (Edelsky, 1991; Froese,1990; Goodman,1986; Weaver,1992). Whole language adalah cara untuk menyatukan pandangan tentang bahasa, tentang pembelajaran, dan tentang orang-orang yang terlibat dalam pembelajaran. Whole language dimulai dengan menumbuhkan lingkungan dimana bahasa diajarkan secara utuh dan keterampilan bahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) diajarkan secara terpadu.
                        Menurut Routman (1991) dan Froese (1991) ada delapan komponen:
1)      Reading Aloud
Reading aloud adalah kegiatan membaca yang dilakukan oleh guru untuk siswanya. Manfaat yang didapat dari reading aloud antara lain meningkatkan keterampilan menyimak, memperkaya kosakata, membantu meningkatkan membaca pemahaman, dan menumbuhkan minat baca pada siswa.

2)      Jurnal Writing
Melalui menulis jurnal, siswa dilatih untuk lancar mencurahkan gagasan dan menceritakan kejadian di sekitarnya, menggunakan bahasa dalam bentuk tulisan. Banyak manfaat yang diperoleh dari menulis jurnal antara lain:
a)        Meningkatkan kemampuan menulis
b)        Meningkatkan kemampuan membaca
c)        Menumbuhkan keberanian menghadap risiko
d)       Memberi kesempatan untuk membuat refleksi
e)        Memvalidasi pengalaman dan perasaan pribadi
f)         Memberikan tempat yang aman dan rahasia untuk menulis
g)        Meningkatkan kemampuan berpikir
h)        Meningkatkan kesadaran akan peraturan menulis
i)          Menjadi alat evaluasi
j)          Menjadi dokumen tertulis


3)      Sustained Silent Reading
Sustained Silent Reading adalah kegiatan membaca dalam hati yang dilakukan siswa. Siswa dibiarkan untuk memilih bacaan yang sesuai dengan kemampuannya sehingga mereka dapat menyelesaikan bacaan tersebut. Oleh karena itu, guru sedapat mungkin menyediakan bahan bacaan yang menarik dari berbagai buku atau sumber sehingga memungkinkan siswa memilih materi bacaan. Pesan yang ingin disampaikan kepada siswa melalui kegiatan ini adalah:
a)        Membaca adalah kegiatan penting yang menyenangkan
b)        Membaca dapat dilakukan oleh siapapun
c)        Membaca berarti kita berkomunikasi dengan pengarang buku tersebut
d)       Siswa dapat membaca dan berkonsentrasi pada bacaannya dalam waktu yang cukup lama
e)        Guru percaya bahwa siswa memahami apa yang mereka baca
f)         Siswa dapat berbagi pengetahuan yang menarik dari materi yang dibacanya setelah kegiatan SSR berakhir

4)      Shared Reading
Shared Reading adalah kegiatan membaca bersama antara guru dan siswa, dimana setiap orang mempunyai buku yang sedang dibacanya.
Ada beberapa cara melakukan kegiatan ini:
a)      Guru membaca dan siswa mengikutinya (untuk kelas rendah)
b)      Guru membaca dan siswa menyimak sambil melihat bacaan yang tertera pada buku
c)      Siswa membaca bergiliran
Maksud kegiatan ini adalah:
a)      Sambil melihat tulisan, siswa berkesempatan untuk memperhatikan guru membaca sebagai model
b)      Memberikan kesempatan untuk memperlihatkan keterampilan membacanya
c)      Siswa yang masih kurang terampil dalam membaca mendapat contoh membaca yang benar
5)      Guided Reading
Guided reading disebut juga membaca terbimbing, guru menjadi pengamat dan fasilitator. Dalam membaca terbimbing    penekanannya bukan dalam cara membaca itu sendiri, tetapi lebih pada membaca pemahaman. Dalam guided reading semua siswa membaca dan mendiskusikan buku yang sama.
6)      Guided Writing
Guided Writing atau menulis terbimbing, peran guru adalah sebagai fasilitator, membantu siswa menemukan apa yang ingin ditulisnya dan bagaimana menulisnya dengan jelas, sistematis, dan menarik
7)      Independent Reading
Independent Reading atau membaca bebas adalah kegiatan membaca, dimana siswa berkesempatan untuk menentukan sendiri materi yang ingin dibacanya. Membaca bebas merupakan bagian integral dari whole language. Dalam independent reading, siswa bertanggung jawab terhadap bacaan yang dipilihnya sehingga peran guru pun berubah dari seorang pemrakarsa, model, dan pemberi tuntunan menjadi seorang pengamat, fasilitator, dam pemberi respons.
8)      Independent Writing
Independent Writing atau menulis bebas bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis, kebiasaan menulis, dan kemampuan berpikir kritis. Jenis menulis yang termasuk independent writing antara lain menulis jurnal dan menulis respons.
CIRI-CIRI KELAS WHOLE LANGUAGE
Ada tujuh ciri yang menandakan kelas whole language:
a)      Kelas yang menerapkan whole language penuh dengan barang cetakan
b)      Siswa belajar melalui model atau contoh
c)      Siswa bekerja dan belajar sesuai dengan tingkat kemampuannya
d)     Siswa berbagi tanggung jawab dalam pembelajaran
e)      Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran
f)       Siswa berani mengambil risiko dan bebas bereksperimen
g)      Siswa mendapat balikan (feedback) positif baik dari guru maupun temannya.
3.      Pendekatan Komunikatif
Pendekatan komunikatif berorientasi pada proses belajar- mengajar bahasa berdasarkan tugas dan fungsi berkomunikasi. Prinsip dasar pendekatan komunikatif ialah: a) materi harus terdiri dari bahasa sebagai alat komunikasi, b) desain materi harus menekankan proses belajar-mengajar dan bukan pokok bahasan, dan c) materi harus memberi dorongan kepada pelajar untuk berkomunikasi secara wajar (Siahaan dalam Pateda, 1991:86). Dalam pendekatan komunikatif, yang menjadi acuan adalah kebutuhan anak didik dan fungsi bahasa. Pendekatan komunikatif berusaha membuat anak didik memiliki kecakapan berbahasa. Dengan sendirinya, acuan pokok setiap unit pelajaran ialah fungsi bahasa dan bukan tata bahasa. Dengan kata lain, tata bahasa disajikan bukan sebagai tujuan akhir, tetapi sarana untuk melaksanakan maksud komunikasi. Strategi belajar-mengajar dalam pendekatan komunikatif didasarkan pada cara belajar siswa/mahasiswa aktif, yang sekarang dikenal dengan istilah Student Centered Learning (SCL). Cara belajar aktif merupakan perkembangan dari teori Dewey Learning by Doing (1854—1952) (lihat Pannen, dkk.2001:42). Dewey sangat tidak setuju dengan rote learning ‘belajar dengan menghafal’. Dewey menerapkan prinsip-prinsip learning by doing, yaitu mahasiswa perlu terlibat dalam proses belajar secara spontan/ mahasiswa terlibat secara aktif dalam proses belajar-mengajar. Dalam pendekatan komunikatif, ada beberapa metode yang dapat diterapkan, yaitu metode simulasi/ The Simulation Method, dan metode kaji pengalaman/ The Inquiry Method (Pateda,1991:87). Rumusan yang hampir sama dinyatakan oleh Slavin (dalam Pannen, dkk. 2001:69) metode-metode belajar aktif terdiri atas: metode Students Teams Achievement Division (STAD), metode Team Games Tournament (TGT), dan metode Jingsaw II. Dari pendapat Slavin ini, penulis hanya menerapkan metode STAD dan metode TGT. Hal ini dikarenakan metode jingsaw II lebih rumit. Selain mahasiswa, dibagi atas beberapa kelompok, dosen harus memilih mahasiswa yang tingkat kemampuannya lebih. Mahasiswa yang tingkat kemampuannya melebihi tingkat kemampuan teman mereka akan dikelompokan pula menjadi kelompok ahli
(http://lenisyafyahya.wordpress.com/2010/01/28/pendekatan-komunikatif/).
Ciri utama pendekatan komunikatif adalah adanya dua kegiatan yang saling berkaitan erat, yakni adanya kegiatan-kegiatan komunikasi fungsional dan kegiatan-kegiatan yang sifatnya interaksi sosial. Kegiatan komunikasi fungsional terdiri atas empat hal, yakni mengolah informasi, berbagi dan mengolah informasi, berbagi informasi dengan kerjasama terbatas, dan berbagi informasi dengan kerjasama tak terbatas, sedangkan kegiatan interaksi sosial terdiri atas enam hal, yakni improsisasi lakon-lakon pendek, aneka simulasi, dialog pemain peran, sidang-sidang konferensi, serta berdebat.
           Finocchairo dan Brumfit (dalam Tarigan, 1989:294) mengemukakan suatu bagan atau skema pelajaran bagi fungsi “pembuatan suatu sugesti” bagi para pembelajar pada tingkat permulaan jenjang pendidikan dasar, bahwa prosedur-prosedur pembelajaran berdasarkan pendekatan komunikatif lebih bersifat evolusioner daripada revolusioner. Adapun garis besar kegiatan pembelajaran yang ditawarkan mereka adalah sebagai berikut:
a)      Penyajian dialog singkat
Kegiatan ini merupakan suatu proses yang memungkinkan guru memberikan motivasi kepada siswa, misalnya menghubungkan materi yang akan dibahas dengan kondisi yang sering ditemukan siswa dalam kehidupan sehari-hari.
b)      Pelatihan lisan dialog yang disajikan
Kegiatan ini biasanya dapat diawali dengan contoh yang diberikan guru, yang tentu saja dilakukan secara lisan. Para siswa, kemudian mengulang apa yang dilisankan oleh guru, baik secara lisan maupun tertulis.
c)      Penyajian tanya jawab
Kegiatan ini dapat dilakukan dalam dua tahap, yakni tanya jawab berdasarkan topik dan situasi dialog serta tanya jawab berdasarkan topik yang dikaitkan dengan pengalaman pribadi siswa.
d)     Penelaaah dan pengkajian
Kegiatan ini dilakuakan dengan mengajak para siswa untuk mengjkaji salah satu ungkapan yang terdapat dalam sebuah dialog. Setelah itu para siswa diberi tugas untuk memberikan contoh ungkapan lain yang fungsi kekomunikatifannya sama.
e)      Penarikan kesimpulan
Kegiatan ini diharapkan mampu mengarahkan siswa untuk membuat simpulan tentang kaidah tata bahasa dalam sebuah dialog yang ditampilkan dalam pembelajaran tersebut.
f)       Aktivitas interpretatif
Kegiatan ini merupakan suatu aktivitas yang mengarahkan siswa agar dapat menginterpretasikan beberapa dialog yang dilisankan.
g)      Aktivitas produksi lisan
Kegiatan ini merupakan aktivitas produksi lisan yang dimulai dari aktivitas komunikasi terbimbing sampai dengan aktivitas yang sama.
h)      Pemberian tugas
Kegiatan ini merupakan kegiatan yang mengharuskan para siswa mengerjakan tugas tertulis sebagai pekerjaan rumah.
i)        Pelaksanaan evaluasi.
Kegiatan ini merupakan kegiatan evaluasi yang dilakukan secara lisan sehingga kompetensi penguasaan bahasa secara komunikatif dapat diukur (Puji Santosa, 2003:2.33-2.40).
4.      Pendekatan Integratif
Dalam kurikulum 2004, siswa dituntut untuk menguasai 4 keterampilan, baik itu keterampilan berbahasa maupun bersastra. Guru harus bisa memilih pendekatan yang sesuai pada setiap proses pembelajaran. Hal itu diharapkan agar hasil pembelajaran siswa bisa maksimal. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), integratif adalah penggabungan atau penyatuan, pembaharuan hingga menjadi kesatuan yang utuh. Menurut Suyatno (2004:26), integratif berarti menyatukan beberapa aspek dalam satu proses. Integratif terbagi menjadi interbidang studi dan antarbidang studi. Interbidang studi artinya beberapa aspek dalam satu bidang studi kemudian diintegrasikan. Misalnya, pembelajaran berbicara diintegrasikan dengan pembelajaran menyimak dan menulis, sedangkan antarbidang studi merupakan pengintegrasian bahan dari beberapa bidang studi. Misalnya, bahasa Indonesia dengan matematika atau dengan bidang studi lainnya.
Menurut Djiwandono (1996: 10), pendekatan integratif diibaratkan sebuah bahasa. Bahasa merupakan penggabungan dari bagian-bagian dan komponen-komponen bahasa, yang bersama-sama membentuk bahasa. Bahasa merupakan suatu integrasi dari bagian-bagian terkecil dan membentuk menjadi bagian-bagian yang lebih besar, yang secara bertahap dan berjenjang membentuk bagian-bagian yang lebih besar apalagi yang pada akhirnya merupakan bentukan terbesar berupa bahasa yang seutuhnya. Sementara itu, menurut (Murtiningsih:2003), pembelajaran wawancara secara integratif merupakan pembelajaran wawancara yang diintegrasikan dengan menulis hasil wawancara, menulis rangkuman pendapat dan memperkenalkan diri dan orang lain dalam forum resmi.

5.      CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif)
Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) merupakan istilah yang bermakna sama dengan Student Active (SAL). CBSA bukan disiplin ilmu atau dalam bahasa populer bukan “teori”, melainkan merupakan cara, teknik, atau dengan kata lain disebut “teknologi”.
Dalam dunia pendidikan dan pengajaran CBSA bukanlah hal yang baru. Bahkan dalam teori pengajaran, CBSA merupakan konsekuensi logis dari pengajaran yang seharusnya. Hampir tidak pernah terjadi proses belajar tanpa adanya keaktifan individu atau siswa yang belajar. Dengan demikian hakikat CBSA pada dasarnya adalah cara atau usaha mempertinggi atau mengoptimalkan kegiatan belajar siswa dalam proses pengajaran.
Sebagai konsep, CBSA adalah suatu proses kegiatan belajar mengajar yang subyek didiknya terlibat secara intelektual dan emosional sehingga ia benar-benar berperan dan berpartisipasi secara aktif dalam melakukan kegiatan belajar. Dari pengertian tersebut menunjukkan CBSA menempatkan siswa sebagai inti dalam kegiatan belajar mengajar. Siswa dipandang sebagai objek dan sebagai subyek.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat di simpulkan bahwa yang di maksud dengan CBSA adalah salah satu cara strategi belajar-mengajar yang menuntut keaktifan dan partisipasi siswa seoptimal mungkin sehingga siswa mampu mengubah tingkah laku secara lebih efektif dan efisien.
a)      Dasar-dasar mengajar menggunakan CBSA
Ø  Keaktifan
Yang dimaksud aktif disini adalah bahwa pada waktu guru mengajar ia harus mengusahakan agar murid-muridnya aktif jasmani maupun rohani. Keaktifan jasmani maupun rohani itu meliputi antara lain:
·         Keaktifan indera : pendengaran, penglihatan, peraba,dll. murid-murid harus diransang agar dapat menggunakan alat inderanya sebaik mungkin. Contoh mendikte atau menyuruh mereka menulis.
·         Keaktifan ingatan: pada waktu mengajar anak harus aktif meminta bahan pengajaran yang di sampaikan oleh guru dan menyimpannya dalam ingatan.
·         Keaktifan akal : anak-anak harus aktif atau diaktifkan untuk memecahkan masalah.
·         Keaktifan emosional : dalam hal ini murid hendaknya senantiasa berusaha mencintai pelajarannya sehingga membuat perasaan lebih senang dalam mempelajari materi tersebut.
Ada banyak cara untuk melaksanakan asas keaktifan dalam belajar. Misalnya dalam pelajaran Bahasa Indonesia anak-anak disuruh membuat karangan, membuat kliping, mengumpulkan kata-kata sukar, kata-kata mutiara, peribahasa dan lain-lain.
Ø  Pemusatan Perhatian
Perhatian merupakan kata kunci terpenting untuk membuka pintu keberhasilan studi. Tanpa itu sulit rasanya kesuksesan akan diperoleh. Oleh sebab itu guru dalam interaksi belajar-mengajar hendaklah berusaha membangkitkan minat dan perhatian anak. Perhatian itu harus selalu diusahakan adanya selama pelajarn masih berlangsung.
Perhatian itu ada dua macam:
§  Perhatian spontan, yakni yang timbul dari dalam diri anak, bukan karena adanya rangsangan dari luar. Perhatian ini dapat bertahan lama dan lebih intensif
§  Perhatian tidak spontan, perhatian ini timbul karena ada rangsangan dari luar. Perhatian ini akan lekas kendor bila kemauan anak tidak kuat. Demikian pula sebaliknya, akan semakin kuat bila kemauan anak bertambah besar.
Supaya perhatian anak terpusat pada pelajaran yang sedang diberikan, maka:
·         Bahan pelajaran harus diatur sedemikian rupa sehingga anak mengenal bahan-bahan tersebut sebagai miliknya sendiri.
·         Guru hendaklah dapat menyajikan bahan pelajaran sebagai sesuatu yang baik dan menarik. Dalam hal ini anak tidak berbeda dengan orang dewasa.
·         Pengajaran hendaklah dihubungkan secara totalitas, tidak dipisah-pisah.
·         Sedapat mungkin guru memasukkan unsur lingkungan dan alam sekitar anak dalam pelajaran.
·         Guru hendaklah dapat menyajikan pelajaran sesuai keadaan anak.
·         Bila keadaan di sekitar kelas ramai sehingga membuat perhatian siswa menjadi buyar, maka guru harus pandai-pandaimenarik kembali perhatian siswa.
Ada beberapa hal yang memperkuat dan memperlemah perhatian siswa antara lain:
1. Memperkuat perhatian
§  Minat yang aktif untuk menerima sesuatu dari luar
§  Adanya rangsangan yang kuat
§  Saran yang positif
§  Kemauan diri yang kuat dan sebagainya
2. Melemahkan perhatian
§  Rangsangan yang lemah
§  Jasmani dan rohani kurang sehat
§  Sugesti yang negatif
§  Rangsangan lain yang mengganggu
Agar anak senantiasa menaruh perhatian kepada pelajaran yang sedang disampaikan, maka:
·         Sikap guru di depan kelas harus wajar, baik dan sopan
·         Pelajaran jangan terlalu lama
·         Banyak variasi mengenai suara, dan media pembelajaran
·         Saling bergantian antar pelajaran tertulis dan pelajaran lisan
·         Saling bergantian antara pelajaran hafalan dan yang memakan fikiran
·         Pelajaran harus dapat membangkitkan rasa seperti bercakap-cakap, menyanyi, membaca syair dan lain-lain
·         Jangan terlalu banyak memberi kesempatan bertanya kepada anak-anak
·         Peta atau gambar yang digunakan harus baik/menarik.

Ø  Peragaan
Untuk menjadikan sesuatu yang sulit menjadi jelas, terang dan mudah guru dapat menggunakan contoh-contoh cerita, gambar dan lain-lain. Jenis peragaan ada dua yaitu peragaan langsung dan peragaan tidak langsung. Peragaan langsung misalnya guru membacakan puisi di depan kelas, sedangkan peragaan tidak langsung misalnya guru membacakan dongeng menggunakan media gambar sebagai perantaranya. Dalam memeragakan materi guru harus memerhatikan hal-hal dibawah ini:
·         Semua sarana yang du=igunakan hendaknya jelas dan dapat menarik perhatian
·         Bagian-bagian yang diterangkan harus jelas.
·         Guru harus mengetahui seberapa jauh pemahaman anak terhadp materi tersebut.
·         Guru harus lebih banyak menggunakan media pembelajaran pada waktu mengajar sebab anak-anak kecil masih menyukai permainan.
·         Media pembelajaran digunakan harus dapat dilihat menumbuhkan dan membangkitkan rasa senang pada diri anak-anak.
·         Media pembelajaran yang digunakan harus dapat dilihat dengan jelas oleh setiap siswa.

b)     Kelebihan dan kekurangan CBSA
Kelebihan dari CBSA antara lain :
1.      Guru tidak lagi hanya menuangkan semua informasi yang dimilikinya kepada peserta didik. Tetapi disini guru memberikan bimbingan kepada peserta didik untuk menemukan fakta dan informasi kemudian mengolah dan mengembangkannya. Dengan kata lain guru guru tidak melakukan cara pendekatanmemberikan ikan kepada peserta didik, tetapi guru melakukan cara pendekatan memberikan “kail” kepada peserta didik. Dengan cara begitu peserta didik akan cepat berkembang dan maju di dalam belajarnya.
2.      Peserta didik lebih menghayati hal-hal yang dipelajari melalui percobaan ataupun praktek langsung, melalui pengalaman terhadap kenyataan langsung dilingkungannya, melalui perlakuan terhadap benda-benda nyata, melalui kegiatan membaca dan menyimak atau melalui penugasan dan melakukan kegiatan tertentu.
3.      melalui CBSA, pengembangan pengetahuan, keterampilan, sikap nilai dapat dipadukan dalam kegiatan belajar-mengajar.
4.      Melalui CBSA perbedaan pengembangan berebagai aspek dapat ditangani lebih baik dalam kegiatan belajar-mengajar.
5.      Melalui pendekatan CBSA fisik, mental dan perasaan peserta didik terlibat dalam proses belajar- mengajar dan sangat membantu perkembangan kehidupan peserta didik seutuhnya.
Kekurangan dari CBSA antara lain:
Kekurangan dari kurikulum CBSA adalah ternyata di dalam penerapannya sering terjadi guru membiarkan peserta didik belajar sendiri atau mengerjakan tugas yang telah diberikannya sementara guru bersantai- santai yang akhirnya peserta didik pun terlantar tanpa bimbingan gurunya’. Sehingga muncul plesetan “CBSA , catat buku sampai abis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar